« Home | Perempuan Bermata Bidadari* »

Aku Ingin Melukis Wajahmu

Cerpen Rista Rifia Libiana


Aku ingin melukis wajahmu, yang menghilang di rembang petang. Namun sosokmu tak pernah hadir. Hanya suara-suara yang memanggil namamu, lamat-lamat singgah lalu melesap dalam kalut malam yang pekat.

©©©

Aku belum lama mengenalnya, belum setahun yang lalu. Namun sosoknya begitu rindu kusapa. Walau samar, ada segurat bayang yang coba artikan senyumnya, dan lagu-lagu seolah tak pernah usai kueja. Betapa perasaan ini lesut kalut dalam wajah seorang pemuda, yang aku mengenal tak lebih dari sekedar nama.

Anak mentari itu, semua seakan mati di hadapannya. Gurat wajahnya mengundang rindu dendam yang kusimpan dalam keratan hati yang menganga. Aku terluka! Bagiku ia adalah kekasih yang tak henti bawakan bunga-bunga ke atas altar pemujaan dalam semediku. Ia tak pernah usai undangkan pendar warna-warni dalam setiap kerjapan mataku. Ia yang tak akan kasip untuk datang nyanyikan suara-suara cinta yang berlesatan dalam rongga-rongga dan celah-celah hutan di kesepian jiwaku. Tapi, aku tak mengerti. Mengapa dahaga ini tak pernah puas walau telah menghirup berarus-arus gelombang madu. Mengapa hanya pahit yang mengecap dan tertinggal di sudut hati. Mengapa kalut yang hanya mau singgah dan membayang di bibir perjumpaanku dengannya. Mengapa?

“Indah sekali, seperti bukan diriku.”

Mata itu tiba-tiba menggantikan pusaran jiwa yang sejenak lalu mengombak-badai di benakku. Mata yang dulu redup buai jiwaku, buat aku sejenak terlupa akan penat masa yang mengalir tiada henti. Mata yang remukkan kuasaku dan sendi-sendi ragaku, hingga hanya layu lemah terasa, ingin hinggap dan merebah pada pundak dan dadanya yang rindang, lesap pada peluk-dekapnya yang hangat. Mata laki-lakiku.

“Bagaimana, Mas?”

Sejenak aku tatapi mata itu kembali. Masih ada desir kurasa di sini, di dada ini. Tapi entah mengapa, walau sudah penuh sesak oleh namanya, dada ini tetap terasa hampa.

“Akhirnya, setelah hampir bosan aku menunggunya”, ia menyusurkan rusuk jari-jemarinya di tiap tikungan goresan pada lukisanku yang sebagian masih setengah basah.

“Kau tahu aku sangat serius membuatnya dan ingin yang terbaik”, kataku membela. “Tinggal beberapa goresan hitam di sana dan sedikit cahaya di sini, maka selesailah.”

Tahukah kau, bahwa aku membuatnya dengan segenap jiwaku hadir untuk perjamu-sembahannya?

“Mas tidak ingin menambahkan sesuatu?”

Laki-lakiku terdiam. Matanya nanar mengarungi kanvas berlumuran bayang-bayangnya sendiri. Walau kau coba memahami wadag lukisan itu, kau tetap tidak akan mampu menangkap jiwa yang aku tanamkan dalam keremangannya.

“Entahlah. Kau yang terbaik. Kau tentu lebih paham tentang ini. Bagiku, ini lebih dari cukup. Terlalu bagus malah. Lihat, aku tampak lebih tampan jadinya.”

Aku tersenyum, kau baru saja membuktikannya.

“Besok akan sudah selesai. Tapi aku ingin meminjam barang sebulan. Sebagai pembuat, aku punya hak untuk itu. Biar bosan mataku melumat wajahmu. Sehabis itu, ambillah. Anggap sebagai hadiah kecil dariku.”

Laki-lakiku tersenyum.

“Aku tidak butuh lukisan, apalagi lukisan diriku sendiri. Aku hanya butuh kamu.”

Dan dedaunan yang terbakar matahari kecoklatan satu-satu meranggas berhamburan dikejari angin di pekarangan. Daun-daun itu tidak pernah berucap apapun. Begitu juga kusen jendela, pintu, dan langit membiru yang masih terjaga.

©©©

Aku berdiri bergeming di beranda. Malam lamur dipulas cahaya bulan sabit yang jatuh di atas permukaan daun-daun berwajah lebar. Hijaunya yang hitam menjelaga di sepuh cahaya bulan sehingga tampak memendar keperak-perakan. Angin berdesir, sedikit keras menampar kulitku yang terbuka, menggoreskan perih di permukaannya. Angin kali ini lebih dingin dari biasanya. Dan lebih jahat. Aku merasa kali ini kurang bisa mencintainya dibanding malam-malam biasanya. Dan aku pun meringis.

Aku tak mengerti. Aku merasa jengah dalam setiap hari-hariku yang berwarna-warni. Tapi kamera hatiku hanya menangkap hitam putih di sana. Ruang-ruang mimpiku kosong. Jiwaku seolah selalu saja dahaga dan telah kelelahan mencari sumber mata air jernih dan segar yang kuharap dapat puaskan keletihanku akan pengembaraan. Namun, di mana-mana mata air itu telah mengering!

Lamunanku terhenti akan suara lamat-lamat dari kejauhan sana. Suara yang asing di mata batinku. Suara yang begitu merdu. Mendayu-dayu. Ah, alangkah pandainya pelantun itu melagukannya.

Suara apa itu? Ah, ya. Aku tahu. Kalau tidak salah, itu kan suara, yang orang mengatakannya, suara, adzan

Suara itu bagiku tiba-tiba, entah mengapa, menyuguhkan manis di telingaku, membuat datangnya sesungging senyum di bibirku. Setiap gemanya, bahkan jika aku memandang rembulan, aku tak mengerti mana yang lebih hangat melindap dalam remang batinku. Ada keteduhan yang begitu sulit aku gambarkan, dan waktu seakan pucat pasi di hadapannya, menghentikan setiap debaran kata yang ingin terlontar. Entah berapa ribu kali dalam setiap detik kehadirannya, telah bekukan derap detak waktu dan keringkan desah nafas kerjapan nyawaku. Betapa aku limbung dan kaku di hadapan kehampaan itu!

Semenjak itu, aku menemukan keisenganku yang baru. Mendengarkan suara adzan, yang datang bersama beriring dengan perpisahan senja yang meranum lalu mengganti jubahnya dengan kain malam. Suara itu begitu indah, begitu… entahlah, aku tak tahu. Ada sesuatu yang damai menina-bobokkan jiwaku setelah seharian kelelahan berkejaran dengan waktu dan desingan harapan. Ada sesuatu yang hangat memeluk dan menggendong jiwaku membawanya terbang mengarung dan melaut bersama bulan dan bintang-bintang. Ah, aku menyerah. Terpukau dan jatuh dalam ketagihan dan keterjeratan akan sesuatu yang tidak aku kenali arah datangnya!

Lelakiku cemburu, mengira aku baru saja menemukan sosok baru yang menyisihkannya dari setiap mimpi-mimpi dan keterjagaanku. Tapi aku tak peduli. Aku mengindahkan senyumnya, bunga-bunganya, dan beratus-ratus cium rindunya, untuk aku ganti dengan kekosongan yang sama sekali aku tidak mengenalnya. Aku terjatuh dan terpuruk dalam pusaran baru, yang lebih deras, lebih menenggelamkan, lebih asing dari pagi tanpa mentari. Aku terbuai, terpagut dalam dunia tanpa nama.

Cukup sudah aku menyerah pada kebutaanku akan sesuatu yang memenjarakanku dalam kebebasannya, menyesakku dalam keleluasan cahayanya, dan menyakitiku dalam keramaian warna-warni bahagianya. Aku tak ingin terus-menerus tak juga mengerti dan mampu menjawab beribu-ribu pertanyaan yang berlesatan di ruang benakku. Apa itu yang bergemericik di dadaku. Apa itu yang begitu sejuk mengaliri sungai-sungai rongga jiwaku yang mengering terpanggang nafsu. Apa itu? Apa itu? Suara itu terngiang-ngiang, bergaung memantul-mantul mengirimkan suara-suara tanya di setiap dinding dan langit-langit hatiku. Apa itu? Apa itu? Apa itu?

Apa itu, yang bahkan di hadapannya, aku seolah kehilangan kata dan segala?

Aku ingin melukis wajahmu yang menghilang di rembang petang. Namun sosokmu tak pernah hadir. Hanya suara-suara yang memanggil namamu, lamat-lamat singgah lalu melesap dalam kalut malam yang pekat.

©©©

Hari ini kuputuskan mengakhiri permainan kebimbangan jiwaku. Aku akan menemuinya. Aku ingin berjumpa dengan orang itu, orang yang setiap malam melagukan suara-suara itu, adzan itu. Akan aku tuntut jawab darinya. Apa maksud lagu itu. Apa isinya. Siapa yang disebutnya. Dan mengapa lagu itu seolah mejelma sihir yang mengguncang dan menghanyutkanku dalam keresahan tak berujung?

Sore mulai pelan-pelan tersaput warna jingga. Langit berawan berpendar-pendar merah dan sedikit mulai terlunturi warna hitam di bukit sebelah timur. Aku akan ke sana, sebelum lagu itu mulai. Aku akan ke sana dan menanyakan, apa maksud itu semua dan mengapa aku jadi seperti ini karenanya.

Jalanan setapak yang mengantarkanku, penuh kerikil dan batu-batu kecil hingga sedikit membuat langkah-langkahku terhuyung. Langit yang mulai menjadi gelap membuat aku tidak mampu melihat dengan jelas apa saja yang ada di depan kakiku. Namun itu semua tidak dapat membuat aku urung untuk mundur. Aku terus melangkah, mendekat pada yang kurasa merupakan arah datangnya suara-suara itu, yang biasa menggema di awal datangnya malam.

Tapi, suara itu…, aku terlambat! Suara itu baru saja mulai menggema dari kejauhan. Ia terasa telah jauh lebih dekat daripada biasanya, daripada hari-hari aku mendengarnya dari beranda.

Tidak. Aku tak boleh menyerah. Aku terseok-seok mengejar suara itu, hingga aku sampai pada jalan setapak perkampungan yang kanan-kirinya berpagar ladang dan rumah-rumah penduduk. Aku tak ingin tertinggal oleh suara itu. Aku ingin sampai di sana tepat waktu, sebelum suara itu usai dan lalu hilang dari udara dibawa angin bukit-bukit yang jauh. Aku terus melangkah, tanpa pernah menoleh sedikitpun.

Suara itu semakin dekat. Ya, semakin dekat. Dan aku lalu tiba-tiba telah sampai di tepi suatu halaman luas yang permukaannya hijau menghampar tertutupi rumput basah bekas hujan sore tadi. Di depanku, di ujung halaman itu, pandanganku terhenti pada sebentuk bangunan kotak bercat putih. Cahaya jingga senja yang tersisa, lamat-lamat menebar dan membias pada sesosok kubah kebiruan di puncaknya, serta sebentuk menara kecil yang tegak berdiri di sebelah kirinya. Dari sanalah, aku mendengar suara itu berasal.

Aku melihat beberapa laki-laki, memasuki bangunan itu. Aku juga melihat beberapa orang, yang kukira perempuan, berpakaian kain putih-putih, memasuki bangunan itu. Sedang apa mereka. Apa yang mereka lakukan. Siapa yang ingin mereka temui?

Suara itu yang kini begitu dekat, begitu nyaring merangsek paksa, menembus gendang telingaku. Suara yang tiba-tiba buai aku hingga terpaku pada ketakterjagaan. Ia mengalun liris melesap masuk menjelajah setiap kerjap jiwa-jiwaku yang terlontar dari kekinian dan ke-ada-an. Ia yang terus mengenalkan satu-persatu mimpi-mimpi, melesakkan pelangi yang masih basah membaring di rerumputan, menghanyutkanku dalam arus mahakuat dan gelombang mahadahsyat. Suara yang terlalu lama kuridukan. Ah, aku terlalu terbuai olehnya.

Namun tiba-tiba, ada suara lain yang aku terlambat mengenalinya, suara klakson dan rem mobil yang dipaksa menjerit di telingaku. Aku tertegun. Dan sekonyong-konyong tubuhku dihantam sesuatu, sangat cepat, sangat keras, membuat aku melayang terpental sesaat, lalu mendarat jatuh dengan begitu keras, di tepi sebuah parit yang lamat-lamat tercium bau lumut. Semua itu terjadi terlalu terbirit, tanpa sempat hadirkan tanya, sekedar kata permisi, atau sepenggal ucap sapa. Lalu segalanya tiba-tiba menjadi pudar.

Para laki-laki itu, para perempuan itu, berhamburan menebar di sekitarku. Kalian mendengarku? Aku mau menemuinya. Tolonglah, aku mau menemuinya. Aku sudah sampai di sini, dan tak mungkin mundur lagi…

Dan kabut lalu menebal, gelap!

Malang, 13 Maret 2006, 08.00

About me

  • I'm Rista Rifia Libiana
  • From ponorogo/malang, jatim, Indonesia
My profile

Archives